Apa kabar sahabat? Apakah hari ini kamu baik-baik saja?
Walau Joe terus menyangkal, tak dapat ia hindari bahwa ia memang merindukan sahabatnya. Setiap hari bertemu tapi tak dapat berkata apa-apa, tak bisa saling bercerita. Joe tak mengerti keadaan ini. Apakah harus karena keegoisannya, ia melupakan persahabatannya ini? Tidak! Bukan Joe yang meninggalkan persahabatan mereka. Pertengkaran itu memang harus terjadi dan telah terjadi. Tak ada yang bisa mengubahnya.
Hari ini Joe merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri. Pertama karena komitmennya untuk mengubah diri ternyata sampai sekarang tidak sanggup dilakukannya. Joe tak tahu haruskah ia menyerah atau terus melanjutkan usahanya. Kedua, Joe meninggalkan sahabatnya di saat hujan. Masih tergambar dengan jelas masa-masa dimana mereka selalu pulang bersama saat hujan maupun panas terik matahari. Tempat tinggal yang dekat membuat Joe dan sahabatnya sangat akrab. Sejak pertengkaran yang terjadi beberapa bulan yang lalu, sampai sekarang Joe tak pernah lagi menganggapnya sahabat. Pertengkaran yang sangat tidak penting dan sepele tapi mampu menggoreskan sebuah luka bagi Joe.
Satu langkah satu kecemasan. Bagaimana ia pulang nanti? Akankah ia kehujanan? Haruskah aku kembali dan menawarkan payung untuknya? Kekhawatiran terus menunggu tapi Joe tetap tak melangkahkan kakinya kembali. Apa yang dipikirkan Joe sebenarnya? Jika ia menurunkan sedikit saja ego-nya, mungkin saja ia takkan menyesal. Hujan makin deras dan Joe makin merasa bersalah. Kembali menawarkan sedikit pertemanan bukan berarti akan membuka luka lama.
Maaf… Maaf karena aku hanya dapat memikirkan keadaanmu namun tak dapat membantumu. Tak ingin ada kekecewaan lagi dan luka itu telah kukubur dalam-dalam. Meski harus menjadi iblis, biarlah aku menjadi iblis bagi semua orang namun aku hanya ingin menjadi pelindung bagi sahabat yang pernah kau lukai. Hanya berharap kamu akan bahagia, sahabatku. Joe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar