Mengenai Saya

Foto saya
I am who I am.. Jangan cepat mengambil kesimpulan tentang saya sebelum mengenal saya secara langsung! Yang terpenting dalam hidup saya adalah keluarga. Persahabatan adalah segalanya buat saya. Setiap manusia pasti merasakan yang namanya cinta, termasuk saya.

Minggu, 27 Maret 2011

Janji di Malam Valentine

“Mi!”
“ Ya?”
“ Lihat! Ada bintang jatuh.” Tunjuk seorang anak kecil laki – laki ke arah langit malam lalu merapatkan kedua telapak tangannya dan kemudian berdoa.
Anak kecil perempuan di sampingnya melongo ke arah yang ditunjuk.
“ Kata mama, kalau kamu lihat bintang jatuh dan kamu minta sesuatu, maka permintaan kamu akan terkabul.”
“ Kamu minta apa tadi?”
“ Aku minta supaya aku bisa ketemu lagi sama kamu.”
“ Memangnya kamu mau ke mana, Takeru?”
“ Aku mau pergi ke tempat yang sangat jauh. Keluargaku akan pindah dari sini.”
“ Kapan kamu pulang?”
“ Mimi.. aku janji akan pulang saat kamu sudah 17 tahun. Aku akan pulang di malam Valentine.” Takeru menggenggam erat kedua tangan Mimi yang mungil.
“ Jangan lupa bawain aku boneka salju yang besar ya! Aku akan nungguin kamu pulang.” Mimi tersenyum bahagia lalu keduanya pun bermain lagi mengelilingi taman.

“ Miyako! Miyako! Ayo bangun!” seorang wanita paruh baya mengguncang – guncang tubuh Miyako yang masih terlelap di balik selimut.
“ Ngantuk, ma… Lima menit lagi ya..?” jawab Miyako ogah – ogahan.
“ Hei.. kamu kan ada janji akan ngerayain malam Valentine bareng teman – teman kamu. Kamu belum nyiapin apa – apa lho.”
Miyako terlonjak kaget, “ Oh iya! Untung mama ingetin!” Miyako pun segera mandi dan bersiap – siap.

Malam Valentine tahun ini adalah malam Valentine yang paling ditunggu – tunggu Miyako. Usianya telah 17 tahun dan malam ini ia akan menagih janji Pangeran masa kecilnya, Takeru. Cinta pertamanya yang akan kembali untuknya.
“ Aduh!” Miyako terjatuh karena menabrak seseorang. Coklat di tangannya pun jatuh.
“ Maaf.. kamu nggak apa – apa kan?” yang ditabrak malah menyodorkan tangan bermaksud membantu Miyako berdiri.
Miyako menyambut tangan laki – laki yang ditabraknya lalu memunguti coklatnya. Dibukanya bungkusan berwarna biru muda itu dan ternyata dugaannya benar. Coklat berbentuk hati yang dibuatnya dengan susah payah kini terbelah dua bagai hati yang patah. “ Coklatku…”
“ Maaf ya gara – gara aku, coklatmu jadi…”
“ Ha? Nggak kok. Bukan salah kamu. Kan aku yang uda nabrak kamu.”
“ TAKERU!” teriak seseorang dari jauh.
Miyako kaget dan segera mencari asal suara. Dan ia lebih kaget lagi saat laki – laki di hadapannya itu melambaikan tangan ke arah sumber suara seakan yang dipanggil itu dia.
“ Sepertinya aku harus pergi. Boleh aku tahu nama kamu?”
Masih syok mendengar nama Takeru disebut, Miyako menjawab dengan terbata – bata, “ Mi.. Miyako.”
“ Oke, Miyako. Sebagai permintaan maaf, ini buat kamu.” Laki – laki yang dipanggil Takeru itu pun memberikan sebuah boneka kecil kepada Miyako lalu pergi.
Serasa bermimpi, Miyako memandangi boneka tersebut. Ya Tuhan! Apa dia itu Takeru? Pangeran masa kecilku? Cinta pertamaku yang uda kutunggu selama sepuluh tahun? Apa benar dia? Dan.. boneka ini.. boneka salju..


13 Februari 2009, 11.30
Pesta penyambutan hari Valentine berlangsung sederhana di rumah Miyako. Yang datang adalah sahabat – sahabat Miyako dan keluarga. Mereka semua menikmati coklat yang dibuat oleh mama Miyako sendiri. Sementara.. Miyako masih termenung di taman belakang sambil memegangi boneka salju pemberian laki – laki tadi yang diyakininya adalah Takeru.
“ Hai, Mi!” sapa seseorang dari belakang, “ Boleh aku duduk?”
“ Mamoru? Duduk aja!”
Suasana hening beberapa saat sampai Mamoru, salah satu sahabat Miyako, memulai pembicaraan yang kelihatannya serius. “ Mi.. aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu.. dari dulu. Aku mau kamu jadi pacar aku. Kamu mau kan?”
“ Apa? Kamu ngomong apa sih? Kamu kan tahu kalau aku…”
“ Aku tahu kamu masih nungguin Pangeranmu itu kan?” Mamoru memotong perkataan Miyako, “ Sudahlah, Mi! Lupain aja dia! Dia nggak akan kembali! Kamu tuh uda dewasa! Nggak seharusnya kamu percaya sama janji – janji masa kecil seperti itu!” nada suara Mamoru mulai meninggi.
PLAK! Miyako menampar Mamoru. “ Kamu dengar ya! Aku nggak akan pernah lupain Takeru! Dia pasti akan nepatin janjinya ke aku! Aku yakin itu!” Miyako berlari keluar dari rumah.
Ia menuju taman di dekat rumahnya. Taman di mana terakhir kali Takeru mengucapkan janji itu. Hujan tiba – tiba mengguyur menyertai air mata Miyako yang jatuh tiada henti.
“ TAKERU! KENAPA KAMU NGGAK NEPATIN JANJI KAMU?! KENAPA KAMU BELUM JUGA PULANG?! SAMPAI KAPAN AKU HARUS NUNGGUIN KAMU?!” teriak Miyako.
Seseorang mengamati Miyako dari dekat namun Miyako tak menyadarinya. Orang itu semakin mendekati Miyako. “ … Aku pulang, Mimi…”
Mendengar nama kecilnya disebut, Miyako langsung berbalik. “ Ta.. Ta.. Takeru..? Kamu pulang…?” Miyako pun memeluk laki – laki di hadapannya. Laki – laki yang ditabraknya tadi siang ternyata memang Takeru. “ Aku kangen sama kamu, Takeru. Aku tahu kamu nggak akan bohongin aku. Aku tahu kamu akan pulang.”
Takeru melepaskan pelukan Miyako, melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 00.00. Dikeluarkannya boneka salju yang lumayan besar yang dari tadi disembunyikannya di balik tubuhnya.
“ Kamu benar – benar bawain aku boneka salju yang besar?” Miyako tersenyum dan ia gembira sekali.
Takeru kemudian mengeluarkan secarik kertas dari saku kemejanya dan menyerahkannya pada Miyako. Miyako tampak kebingungan. Ia pun membuka kertas itu. Kalimat demi kalimat dibacanya dan air matanya jatuh lagi.
Mimi… Keluargaku pindah ke Amerika untuk mencarikan dokter terbaik untukku. Aku menderita kelainan jantung. Saat kamu baca surat dari aku ini mungkin aku uda jauh dari kamu. Tapi, setelah kamu baca surat ini, aku ingin kamu tersenyum untukku karena aku bahagia melihat senyummu. Maaf karena aku nggak bisa nepatin janji aku untuk ketemu kamu di malam Valentine dan bawain kamu boneka salju yang besar. Maaf karena aku pergi tanpa bisa menepati janji aku terlebih dahulu. Tapi aku tetap berusaha menepati janji aku, Mi. Laki – laki di hadapanmu adalah sahabatku, Tomo. Dia yang akan mewakiliku untuk menemuimu dan membawakanmu boneka salju. Dia juga yang akan mewakiliku menyayangimu setulus hatinya. Aku percaya padanya. Maafin aku, Mi…
Aku ingin kamu tahu… Walau kini ragaku telah pergi meninggalkanmu… Namun jiwaku tetap akan utuh di dalam hatimu… Cinta Takeru untuk Miyako takkan pernah sirna walau dunia memisahkan… Aku sayang kamu, Mimi…
Seusai membaca surat dari Takeru, walau hatinya sungguh sedih, Miyako tersenyum sambil menatap ke arah langit malam. Langit yang sama persis dengan langit di mana ia dan Takeru melihat bintang jatuh bersama. Aku akan bahagia untukmu, Takeru. Cinta Miyako untuk Takeru takkan pernah sirna walau dunia memisahkan. Aku sayang kamu, Takeru.
Tomo pun merangkul Miyako sambil tersenyum menatap ke arah langit malam. Aku akan menjaga Miyako untukmu, Takeru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar