Perubahan bukanlah sesuatu hal yang mudah, terutama perubahan diri sendiri. Sanggupkah kamu mengubah sesuatu yang telah ada dalam dirimu sedari dulu menjadi sesuatu yang baru secara instan dan cepat? Sulit kan? Apalagi dalam hal mengubah sifat. Bayangkan seorang anak perempuan yang sejak kecil bisa dikatakan bergaul dengan laki-laki, semua yang ia mainkan adalah permainan anak laki-laki seperti hal-hal yang berhubungan dengan bola dan lain sebagainya, kini gadis kecil itu harus tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Ia harus berlaku layaknya seorang wanita yang anggun dan dewasa. Tentu mengubah kepribadiannya itu sangat sulit. Namun siapa yang akan tahu sebelum mencobanya.
Tidak ada hal yang benar-benar sulit jika kamu memiliki keinginan untuk mencobanya. Seperti gadis kecil tadi, mungkin orang-orang yang mengenalnya dari kecil, akan tahu bahwa ia seorang yang berkelakuan seperti laki-laki, kata-kata yang diucapkannya selalu kasar dan tak memikirkan perasaan orang lain. Namun dalam hati si gadis kecil berpikir, ia bukanlah seperti yang mereka katakan. Sewaktu kecil ia lebih fun bila bermain dengan anak-anak lelaki karena menurutnya permainan anak perempuan seperti memasak, rumah-rumahan, boneka, dan lain sebagainya, semua itu hanya membuang waktu. Akan lebih menyenangkan bila kamu bisa berlari, menendang bola, sehingga kamu merasa seluruh tubuhmu aktif bekerja. Mungkin orang-orang tak akan percaya seorang anak kecil apalagi perempuan dapat berpikir seperti itu tapi itulah kenyataannya. Hingga ketika beranjak remaja, ibunya mulai mengajari menjadi layaknya seorang wanita. Merias diri, berpakaian lebih anggun, sampai memakai high heels yang menurutnya sangat tidak nyaman.
Sampai suatu saat si anak kecil yang telah menjadi gadis remaja berpikir, seorang wanita yang kelihatan feminin dan lemah lembut selalu dapat menarik perhatian para lelaki sedangkan mengapa seorang wanita yang tidak pandai merias diri (tidak feminin) tidak dapat menarik perhatian para lelaki? Apa dunia ini benar-benar tidak adil? Bagaimana nasib mereka yang dari lahir memang tidak memiliki keberuntungan berwajah cantik? Bagaimana nasib mereka yang tidak mempunyai uang untuk pergi ke salon atau tempat perawatan kecantikan lainnya? Apakah laki-laki hanya tertarik pada wanita yang berparas cantik dan feminin? Si gadis remaja ingin sekali memiliki wajah yang cantik, berkepribadian seperti layaknya seorang putri, tapi apakah itu mungkin? Semua orang yang mengenalnya tahu bahwa gadis ini dari dulu sangat tomboy. Mengingat setiap perilaku dan tingkah laku si gadis, sepertinya sangat sulit baginya untuk berubah menjadi seseorang wanita yang feminin. Si gadis bukannya tidak ingin terlihat seperti seorang wanita yang anggun, ia hanya tidak ingin terlihat sebagai seseorang yang lemah, yang hanya bisa menangis dan tunduk pada kejamnya kehidupan. Pernah seseorang berkata padanya bahwa menangis bukan berarti seseorang akan terlihat lemah tetapi seseorang menangis karena ia hanya ingin mengeluarkan segala kesedihan dalam hatinya supaya kesedihan itu tak akan menjadi beban dalam hidupnya. Air mata yang mengalir tak pernah berhenti saat si gadis remaja menginjakkan kaki di kelas XII SMA. Satu tahun terberat yang pernah dijalaninya. Mungkin hampir setiap hari dia menitikkan air mata sampai suatu hari ia memutuskan untuk pergi dari kota kelahirannya ke kota lain untuk melupakan seluruh masa lalunya, memulai kehidupan yang baru.
Kini gadis kecil telah menjadi seorang wanita dewasa walaupun terkadang pemikirannya masih kekanak-kanakan. Ia hampir genap berusia 20 tahun. Sudah waktunya ia memikirkan segala tentang masa depannya. Ia bukan lagi anak kecil perempuan yang hobinya main bola dengan anak-anak lelaki. Ia bukan lagi seorang anak kecil yang hanya bisa menangis bila diganggu atau dimarahi oleh guru dan orang tua. Ia harus memiliki pikiran yang lebih terbuka akan kehidupan yang lebih keras. Di samping itu, ia adalah seorang wanita dewasa yang harus mulai memikirkan cinta dan masa depannya. Seorang pria bukan tertarik pada wanita yang berparas cantik, bisa memasak, dan feminin, tapi mereka hanya mencari seorang wanita dari sekian banyaknya wanita yang diciptakan Tuhan, yang layak menjadi pendamping hidup mereka. Laki-laki akan menjadi kepala keluarga nantinya, oleh sebab itu mereka tentu tidak mengharapkan seorang istri yang memiliki sifat jauh lebih keras dibanding mereka. Para lelaki harus bisa memimpin sebuah keluarga, bukan dipimpin. Bila si wanita dewasa masih menggunakan cara berpikir lamanya, ingin lebih kuat dibandingkan para lelaki, tidak memerlukan perlindungan siapapun, maka dalam hidupnya, ia akan menjadi kepala keluarga untuk hidupnya sendiri.
Cinta pertamanya membuatnya menjadi seseorang yang sangat egois. Menganggapnya segala pendapatnya adalah benar dan harus dituruti oleh dirinya sendiri. Sekarang cinta pertamanya telah menghilang dan mungkin takkan kembali. Si wanita dewasa harus sadar bahwa ia juga harus menghilangkan dirinya yang lama dan memulai sesuatu yang baru. Biarlah semua orang menganggap ia takkan pernah berubah tetapi asal ia percaya pada diri sendiri maka hidupnya akan ada keajaiban. Ia HARUS berubah! Perubahan tidak akan terjadi secara cepat dan instan tetapi harus melalui tahapan-tahapan. Percaya pada diri sendiri! Percaya Tuhan akan menuntun jalanmu! Percaya bahwa sesulit apapun sebuah teka-teki kehidupan, akan ada jalan keluar menuju sinar terang yang menanti!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar